Jum'at, 08 Mei 2020 19:34 WIB

Suka Duka Mahasiswa Minang di Mesir yang Tidak Bisa Mudik karena 'Lockdown'

gosumbarcom_r8hja_49176.jpg
Ketua Kesepakatan Mahasiswa Minang (KMM) Mesir Abdan Syukri (HO/Antara)
PADANG - Semenjak Mesir memberlakukan partial lockdown atau karantina wilayah secara parsial sejak Maret 2020 untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona penyebab Covid-19 ternyata berdampak terhadap mahasiswa Minang yang kuliah di negara itu.

Mesir dengan ibu kota Kairo itu ditutup pada Rabu (25/3) malam ketika pihak yang berwenang menerapkan jam malam untuk mengatasi penyebaran Covid-19.

Di kota yang tidak pernah tidur itu dimana restoran dan kafe biasanya buka sampai dini hari. Namun sejak penerapan lockdown pemilik toko menutup jendela dan warga bergegas pulang sebelum dimulainya jam malam pukul 19.00 sampai 06.00 waktu setempat.

Polisi ditempatkan di jalan-jalan utama untuk menghentikan pelanggar jam malam. Banyak jalanan sudah hampir sepi pada 6.30 malam.

''Sejak lockdown diberlakukan tempat umum berupa kafe, rumah makan, sarana olahraga, dan beberapa tempat lainnya ditutup di Mesir. Jam malam juga telah diterapkan, bagi yang melannggar akan dikenakan denda senilai 4.217,42 Pound Mesir atau Rp4 juta," kata Ketua Kesepakatan Mahasiswa Minang (KMM) Mesir, Abdan Syukri saat dihubungi dari Padang, Jumat (8/5/2020).

Mesir telah meningkatkan langkah-langkah yang bertujuan mencegah penyebaran Covid-19 berupa menutup bandara dan pusat kebugaran, serta menangguhkan kelas di sekolah dan universitas.

Kemudian, Mesir juga melarang pertemuan keagamaan selama bulan suci Ramadhan 1441 Hijriah untuk menekan penyebaran Covid-19.

Mesir merupakan rumah bagi 100 juta orang dan juga pusat Universitas Al-Azhar, otoritas keagamaan tertinggi Mesir sekaligus salah satu pusat pembelajaran Muslim Sunni paling terkemuka di dunia.

Banyak mahasiswa yang melanjutkan studi ke Mesir, termasuk Indonesia. Bahkan terdapat ratusan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di sana. Begitu pula dengan mahasiswa asal Minangkabau, Sumatera Barat (Sumbar).

Kuliah ke Mesir

Abdan Syukri menyebutkan saat ini jumlah mahasiswa asal Minangkabau yang berkuliah Universitas Al-Azhar Mesir sebanyak 301 orang.

"301 mahasiswa asal Minangkabau yang berkuliah di Universitas Al Azhar Mesir tersebut terdapat 85 persen tengah menempuh S1, 12 persen S2, dan 3 persen S3," kata Syukri yang merupakan salah seorang mahasiswa asal Minangkabau, yang sudah enam tahun merantau ke Mesir dan saat ini tengah melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Al-Azhar tersebut.

Terdampak Lockdown

Pemberlakuan partial lockdown sampai saat ini berdampak terhadap ekonomi mahasiswa asal Minangkabau yang berkuliah di Mesir.

Ia mengatakan semenjak pemberlakuan jam malam di Mesir berdampak terhadap mahasiswa yang kerja sampingan untuk memenuhi kebutuhan harian.

"Karena tidak semuanya kawan-kawan di sini yang mendapatkan beasiswa, jadi sebagian ada yang bekerja untuk melanjutkan kuliah mereka," tambah dia.

Ia menyebutkan dari 301 mahasiswa asal Minangkabau yang berkuliah di Mesir hanya 60 orang yang mendapatkan beasiswa.

"Saya berharap pandemi ini segera berakhir dan kondisi segera membaik. Sehingga kita bisa belajar lagi dengan normal," ujar dia.

Kemudian, ia mengatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Mesir telah mendata jumlah mahasiswa Indonesia di Mesir dan membagikan sekitar 1.500 paket sembako untuk mahasiswa Indonesia.

"Dan ada lagi yang sedang proses, tetapi kita gak tau jumlahnya berapa," ujar dia.

Tidak Bisa Mudik

Kendati KBRI Cairo telah memfasilitasi repatriasi mandiri 75 warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Mesir untuk kembali ke Tanah Air, di tengah kebijakan pemerintah setempat menutup seluruh penerbangan internasional dari dan ke negara tersebut sejak 19 Maret 2020 karena wabah Covid-19. Namun Syukri mengungkapkan sebagian mahasiswa tetap tidak bisa mudik.

Sebagai informasi, 75 WNI yang ikut repatriasi tersebut sebagian adalah para peserta pelatihan/kursus bahasa Arab dan materi lainnya yang telah selesai masa pelatihannya di Mesir, tetapi tidak bisa kembali ke Indonesia akibat ditutupnya penerbangan komersial penumpang internasional di Mesir.

Selain itu, banyak juga mahasiswa yang ikut karena sudah menyelesaikan kuliahnya, para WNI dosen bahasa Indonesia, turis WNI yang dirawat di RS di Mesir karena mengalami kecelakaan, dan pekerja migran Indonesia.

"Mahasiswa Minang di Mesir tidak bisa pulang karena masih kuliah yang diganti secara daring. Kemudian akan ujian akhir semester yang diganti dengan membuat riset/bahts pada 31 Mei 2020," jelas dia.

Tetap Produktif

Semenjak diberlakukan partial lockdown sampai saat ini, ia mengatakan sistem perkuliahan yang biasanya dilakukan di kampus secara langsung, diganti dengan sistem daring.

Hal itu bertujuan untuk menghindari kerumunan dan memutus mata rantai COVID-19 di Mesir. Sehingga sistem perkuliahan dilakukan dari rumah secara daring.

"Ujian seperti biasa hanya yang tingkat empat atau mahasiswa tahun akhir," ujar dia.

Kendati demikian, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap produktif. Selama melewati lockdown di Mesir dan tidak bisa mudik ke kampung halaman ia telah banyak mengisi kegiatan seminar online sebagai pembicara.

Beberapa kegiatan seminar yang diikuti sebagai pembicara berupa Seminar Kesehatan secara daring yang diadakan Ikatan Mahasiswa Lembah Gumanti (IMLG), Seminar daring Ramadhan Paradise For The Givers yang digelar ACT, Seminar online yang diadakan Klinik Gigi Sehat Avicenna (KGSA) dan beberapa seminar online lainnya.

Menurut dia kendati terjebak di tengah pandemi Covid-19, bukan berarti menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang menebarkan kebaikan tehadap umat. ***

Editor : Hermanto Ansam
Sumber : Antara
Kategori : Pendidikan, Rantau
Loading...
Terpopuler 24 Jam Terakhir
Loading...