Senin, 04 Mei 2020 15:19 WIB

Komisi IX DPR Desak BP2MI dan Kemenlu Usut Kasus Perkelahian ABK China vs ABK Indonesia

Penulis: Muslikhin Effendy
gonews_bsmjt_84814.jpg
Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Netty Prasetiyani. (Istimewa)
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Netty Prasetiyani menyesalkan terjadinya insiden perkelahian antara Anak Buah Kapal (ABK) asal China dan ABK Indonesia di Perairan Malaysia.

Untuk itu, dirinya meminta pemerintah dalam hal ini Kemenlu dan BP2MI, agar segera mengusut tuntas kejadian ini. "Saya meminta pemerintah untuk mengirimkan tim dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja, BP2MI dan lembaga penyalur untuk berkoordinasi dengan pemerintah setempat guna melakukan pencarian korban yang masih hilang hingga saat ini," ujarnya saat dihubungi GoNews.co, Senin (04/5/2020).

Pasalnya kata Netty, hingga saat ini dari 6 ABK yang melompat masigh ada 2 orang yang belum diketemukan. "Negara harus hadir memberikan peran. Karena kasus hilangnya 2 ABK Indonesia ini menambah deret hitam kasus perlindungan pekerja dan warga Indonesia," tegasnya.

Padahal kata dia, beberapa waktu silam, Komisi IX DPR sudah melakukan rapat koordinasi lintas kementerian seperti Kemenhub, Kemen KKP, dan Kemenaker membahas perlindungan bagi ABK dan pekerja di atas kapal yang rentan dengan resiko dan kematian.

"Selain melakukan pencarian, tim ini harus memberikan pendampingan hukum kepada para ABK ini. Jika memenuhi unsur kekerasan dan motif kejahatan dalam kasus ini, bisa dibawa ke ranah hukum. Dan jika ternyata 2 ABK ini dinyatakan meninggal dunia, pemerintah melalui tim harus memastikan hak-hak tenaga kerja tersebut yanmg nantinya dapat diterima oleh ahli warisnya dengan segera, baik dari perusahaan maupun asuransi sosial nya," paparnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Muchamad Nabil Haroen, juga mendesak hal yang sama.

"Pemerintah harus menugaskan kementrian terkait untuk investigasi kasus ini," ujar Gus Nabil sapaan akrab Muchamad Nabil Haroen saat dihubungi GoNews.co, Minggu (3/5/2020) malam.

Jika benar ada perkelahian dan kekerasan, kata dia, maka harus ada sanksi hukum yang jelas dan tegas. Apalagi kejadian tersebut menyangkut dengan hukum dan keselamatan tenaga kerja Indonesia.

Kejadian itu kata dia, harus menjadi perhatikan pemerintah secara seksama. "Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan instansi terkait harus bersama-sama menyelesaikan kasus ini agar terang benderang, juga mencari korban yang masih hilang di laut," tegas Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama itu.

Untuk diketahui, seorang anak buah kapal asal Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, Adithya Sebastian dilaporkan hilang di perairan Malaysia, setelah yang bersangkutan diduga meloncat dari atas kapal bersama lima rekannya.

Menurut keterangan paman korban, Adrizal di Padang, dari informasi rekan korban yang selamat, pada 7 April 2020 terjadi perkelahian antara enam ABK Indonesia dengan ABK Tiongkok di atas kapal Fu Yuan Yu 1218 tepatnya di perairan Selat Malaka dengan Singapura.

Kemudian, enam awak kapal itu terjun ke laut dan empat orang berhasil diselamatkan oleh maritim Malaysia dan sudah dipulangkan ke Indonesia. "Dua lagi, Adithya Sebastian dan temannya, Sugiyana Ramadhan asal Sukabumi, tidak jelas nasibnya sampai saat ini," ujarnya.

Kemudian pihak perusahaan atas nama Jhon Albert menghubungi kami keluarga dan menyampaikan tidak ada kekerasan di kapal. ''Perusahaan sudah melaporkan ke Kementerian Luar Negeri dan pihak perusahaan kini menunggu info dari Kemenlu," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan dokumen pemberitahuan dari PT Mandiri Tunggal Bahari selaku perusahaan penyalur menjelaskan, berdasarkan pengakuan kapten kapal enam ABK asal Indonesia terjun pada Selasa 7 April 2020 pukul 02.43 dini hari.

Pada awalnya kapten kapal tidak mengetahui ada enam ABK yang terjun ke laut dan setelah dicari ke seluruh penjuru kapal selama satu jam tidak ditemukan sama sekali. Kemudian kapten kapal menyadari enam ABK tersebut terjun ke laut setelah melihat rekaman CCTV.

Menurut kapten kapal mereka ingin pulang karena posisi kapal sudah dekat antara Selat Malaka dan Singapura. Saat kejadian empat ABK berhasil diselamatkan kapal lain yang melintas dan dua ABK belum ditemukan hingga hari ini.***

Loading...
Terpopuler 24 Jam Terakhir
Loading...