Minggu, 03 Mei 2020 23:48 WIB

Gus Nabil Desak Pemerintah Investigasi Kasus Perkelahian ABK China dan ABK Indonesia

Penulis: Muslikhin Effendy
gonews_nr5tb_84805.jpeg
Istimewa.
JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Muchamad Nabil Haroen, mendesak pemerintah melakukan investigasi terhadap kasus perkelahian yang diduga melibatkan Anak Buah Kapal (ABK) asal China dan Indonesia.

"Pemerintah harus menugaskan kementrian terkait untuk investigasi kasus ini," ujar Gus Nabil sapaan akrab Muchamad Nabil Haroen saat dihubungi GoNews.co, Minggu (3/5/2020) malam.

Jika benar ada perkelahian dan kekerasan, kata dia, maka harus ada sanksi hukum yang jelas dan tegas. Apalagi kejadian tersebut menyangkut dengan hukum dan keselamatan tenaga kerja Indonesia.

Kejadian itu kata dia, harus menjadi perhatikan pemerintah secara seksama. "Kementerian Luar Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan instansi terkait harus bersama-sama menyelesaikan kasus ini agar terang benderang, juga mencari korban yang masih hilang di laut," tegas Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama itu.

Selain pemerintah, katanya lagi, juga tanggungjawab perusahaan penyalur tenaga kerja untuk memperhatikan keselamatan pekerja dari Indonesia.

Untuk diketahui, seorang anak buah kapal asal Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, Adithya Sebastian dilaporkan hilang di perairan Malaysia, setelah yang bersangkutan diduga meloncat dari atas kapal bersama lima rekannya.

Menurut keterangan paman korban, Adrizal di Padang, dari informasi rekan korban yang selamat, pada 7 April 2020 terjadi perkelahian antara enam ABK Indonesia dengan ABK Tiongkok di atas kapal Fu Yuan Yu 1218 tepatnya di perairan Selat Malaka dengan Singapura.

Kemudian, enam awak kapal itu terjun ke laut dan empat orang berhasil diselamatkan oleh maritim Malaysia dan sudah dipulangkan ke Indonesia.

"Dua lagi, Adithya Sebastian dan temannya, Sugiyana Ramadhan asal Sukabumi, tidak jelas nasibnya sampai saat ini," ujarnya.

Kemudian pihak perusahaan atas nama Jhon Albert menghubungi kami keluarga dan menyampaikan tidak ada kekerasan di kapal.

''Perusahaan sudah melaporkan ke Kementerian Luar Negeri dan pihak perusahaan kini menunggu info dari Kemenlu," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan dokumen pemberitahuan dari PT Mandiri Tunggal Bahari selaku perusahaan penyalur menjelaskan, berdasarkan pengakuan kapten kapal enam ABK asal Indonesia terjun pada Selasa 7 April 2020 pukul 02.43 dini hari.

Pada awalnya kapten kapal tidak mengetahui ada enam ABK yang terjun ke laut dan setelah dicari ke seluruh penjuru kapal selama satu jam tidak ditemukan sama sekali.

Kemudian kapten kapal menyadari enam ABK tersebut terjun ke laut setelah melihat rekaman CCTV.

Menurut kapten kapal mereka ingin pulang karena posisi kapal sudah dekat antara Selat Malaka dan Singapura.

Saat kejadian empat ABK berhasil diselamatkan kapal lain yang melintas dan dua ABK belum ditemukan hingga hari ini.***

Loading...
Terpopuler 24 Jam Terakhir
Loading...