Rabu, 15 April 2020 19:54 WIB

Pariwisata Sepi di Tengah Pandemi Corona, Luhut Incar Turis China, Korea dan Jepang

gonews_jsfmm_84218.jpg
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, pemerintah akan membangkitkan sektor pariwisata termasuk perhotelan yang lesu akibat pandemi Virus Corona.

Menurut Luhut, salah satu cara yang akan dilakukan adalah dengan menarik turis dari China, Korea dan Jepang untuk berwisata ke Indonesia.

"Pariwisata memang menjadi perhatian serius kita, tetapi kita perlu lihat juga ini sekarang. Kalau China ini recovery cepat, dan sekarang sudah mulai nih. Korea Selatan dan Jepang dalam satu atau dua bulan ini, berarti turis mereka sudah ingin keluar tuh karena stres berbulan-bulan," kata Luhut Binsar Panjaitan melalui konferensi video di Jakarta, Selasa (14/4/2020).

Ia menjelaskan, Bali menjadi salah satu daerah yang mulai digenjot kawasannya untuk menarik pengunjung wisatawan asing. Seperti China, Jepang, dan Korea Selatan yang mulai pulih dari kondisi pandemi virus corona.

Sekaligus, menyiapkan alat pendeteksi Covid-19 bagi wisatawan asing yang akan datang ke Indonesia. "Nah kita juga siapkan daerah-daerah (jadi kunjungan wisata). Seperti Bali, kita cepat-cepat (benahi penataannya) supaya lebih bagus. Ada satu alat untuk melakukan pengetesan di Udayana, mereka sedang buat," ujarnya.

Selain itu, pemerintah masih menghitung insentif yang akan diberikan kepada sektor pariwisata. Luhut menyebut bahwa adanya pemulihan dari ketiga negara tersebut, pariwisata Indonesia akan bergeliat lagi.

"Tadi ada hampir 1.000 hotel itu sekarang slow down dan berhenti. Tadi pemerintah lagi menghitung sekarang ini, bunganya dihilangkan berapa lama atau bagaimana, sedang dihitung cermat soal ini. Kita lihat yang cepat bangkit ini pariwisata. Karena kita lihat jumlah pariwisata bisa belasan juta orang," ujarnya.

Sebelumnya, akhir Februari 2020, pemerintah telah menetapkan insentif pembebasan pajak kepada pengusaha hotel dan restoran di 10 destinasi wisata.

Selain itu, ada juga insentif berupa diskon tiket pesawat 30 persen untuk 10 destinasi wisata guna mendorong perjalanan wisatawan nusantara. Selain itu, dalam pernyataan sebelumnya Luhut Binsar Panjaitan juga menyebut virus corona akan melemah pada bulan April.

Pernyataan itu memiliki alasan yakni di Indonesia akan memasuki musim panas. Sementara virus corona tidak bertahan lama dengan panasnya sinar matahari.

Luhut pun menjelaskan di kanal YouTube Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI dengan topik 'Menko Luhut Menjawab: Mudik 2020' pada Selasa (31/3/2020).

Sebelum menjawab, terdapat beberapa pertanyaan yang ditujukan untuk sang politisi tersebut, seperti. "Kapan Perpres dan Inpres soal mudik akan dikeluarkan dan akan seperti apa aturan main yang akan diterapkan?,".

Luhut pun menjawab bahwasanya topik mudik akan dibahas di rapat terakhir dan nanti akan dilaporkan ke Presiden. Ia menyampaikan terdapat beberapa poin yang perlu dipikirkan soal mudik di tengah wabah ini.

"Yang kesatu masalah ekonomi, masalah kedua kan penularan. Penularan ini itu sangat kental dengan kalau kita tidak melakukan social distancing atau jaga jarak itu dengan baik," terang Luhut.

Tak berhenti di situ, Luhut juga menjelaskan dan berpacu pada hasil penelitian bahwa wabah Covid-19 akan mereda di bulan April. "Yang ketiga, sebenarnya Indonesia itu diuntungkan dari hasil penelitian, dengan temperatur yang tinggi April mulai masuk ini. Terus kemudian humidity (kelembaban udara) yang tinggi itu membuat virus Covid-19 sebenarnya relatif lebih lemah daripada di tempat lain,” jelas Luhut.

Namun, perlu diingat meredam coronavirus harus didukung dengan bisa mematuhi kebijakan pemerintah yang telah digaungkan. "Tapi kalau social distancing itu tidak juga ketat, terlalu banyak juga masih berkumpul ramai-ramai. Ya nggak berlaku tadi mengenai keuntungan kita dari panas dan humidity yang tinggi tadi,” lanjutnya.

Sehingga, menurut Luhut dengan meminimalisir adanya kasus infeksi di Tanah Air membuat pemerintah mengambil kebijakan karantina suatu wilayah bukan istilah lockdown.

Karena penetapan lockdown sendiri harus dipertimbangkan secara matang agar tak gagal dalam memutuskan. "Nah ini yang harus dicari keseimbangannya, tapi kira-kira nanti terminologinya dicari juga, kita tidak kenal lockdown, kita kenalnya dikarantina, undang-undang nih ya, jadi jangan kita pakai lagi istilah lockdown itu, Lockdown itu nggak semua tempat berhasil, hanya China yang relatif berhasil, di Korea, Italia juga tidak, sama Jerman, setiap negara itu mencari modelnya masing-masing yang cocok dengan dia, jadi kita jangan terus buru-buru menjudge atau memberikan komentar yang tidak pas," tegas Luhut.

Pertanyaan lanjutan yang dijawab oleh Luhut yaitu 'Bagaimana kebijakan pemerintah terkait pencegahan mudik dengan kendaraan pribadi maupun moda transportasi yang masih memberangkatkan pemudik?'.

Luhut menjelaskan bahwa memang perlunya kesadaran dari seseorang di tengah wabah Covid-19 ini. Karena semua itu demi kebaikan dan kesehatan sesama yang ada di sekitar kita. "Kita memberikan imbauan paling jelas, karena begini kalau kamu sekarang pakai mudik ramai-ramai, secara tanpa sadar sudah membuat kemungkinan orang lain meninggal karena perilakumu atau kamu sendiri. Itu tergantung kita," ungkap Luhut.

Bahkan ia melanjutkan pernyataannya apabila tak menyadari perilakunya, maka akan berakibat merugikan orang lain. "Kalau tidak ada kesadaran itu, langsung tidak langsung sudah membantu jumlah orang meninggal itu bertambah, jumlah orang susah itu tambah. Jadi, ini yang perlu kita sadar," tambahnya.

Ia pun menutup jawabannya dengan penuturan semua wilayah sedang berada di kondisi yang memprihatinkan. "Jangan cepat berkomentar yang tambah membuat keadaan sulit. Kan seluruh dunia ngalamin ini bukan hanya Indonesia saja dan semua juga mengalami dengan tekanan-tekanan luar biasa," pungkas Luhut.

Dalam tayangan video YouTube tersebut juga menunjukkan perhatian pemerintah kepada rakyatnya. Karena menurut Luhut rakyat itu jangan sampai jadi korban yang terlalu parah dengan adanya wabah ini.

Beberapa pengawasan dan tetap memberikan ketersediaan pangan pun juga dijelaskan dalam video tersebut. Karena sejatinya mematuhi aturan pemerintah untuk menghabiskan aktivitas di rumah saja itu merupakan pilihan yang tepat.

Hal itu di luar memiliki kepentingan yang sangat mendesak. Sampai nanti hasilnya pun bisa meredam penyebaran Covid-19 lebih luas dan bisa diminimalisir dengan baik.***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : Tribunews.com
Kategori : Peristiwa, Pemerintahan, GoNews Group
Loading...
Terpopuler 24 Jam Terakhir
Loading...