Rabu, 15 April 2020 16:49 WIB

'Opung' Luhut Tanya Gubernur Anies: Kenapa Masih Banyak Orang ke Jakarta

gonews_9bewe_84205.jpg
JAKARTA - Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaku sempat bertanya kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan perihal mobilitas warga. Pertanyaan itu diajukan dalam rangka koordinasi untuk penanganan COVID-19.

"Pak Gubernur DKI pak Anies bicara sama saya, jadi kami koordinasikan baik- baik saja. Mengenai KRL ini saya bilang pak Anies Tolong juga dilihat kenapa masih banyak orang yang ke Jakarta," kata Luhut di sela menggelar konferensi video bersama awak media, Selasa (14/4/20/20).

Luhut mengemukakan hal tersebut ketika ditanya perihal tanggapan atas desakan penghentian operasional KRL commuterline selama Pembatasan Sosial Berskala Bersar (PSBB). Desakan itu disampaikan oleh lima kepala daerah dari kawasan Bodebek yang akan menerapkan PSBB pada Rabu (15/4/2020) pukul 00.00 WIB.

"Nah kalau soal mau nutup KRL kita lihat kan gak kayak balik tangan semua. Karena kalau orang nggak bisa traveling padahal yang penting kan ndak bagus juga," kata Luhut.

Ia juga buka suara perihal polemik pengaturan ojek online dalam PSBB. Ia membantah ada polemik terkait hal tersebut. "Ojek online itu kan sekarang gak ada polemik," ujar Luhut.

Menurut dia, penerbitan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 18 Tahun 2020 berlaku untuk seluruh Indonesia. Pemerintah daerah dipersilakan menerapkan aturan itu sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

"Misalnya DKI Jakarta enggak membolehkan. Ya kalau dia enggak membolehkan ya silakan, urusan dia. Tapi ada Pekanbaru misalnya, dia membolehkan dengan tetap mengacu kepada permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020) ya boleh juga. Kan tiap daerah punya lebihnya. Kita coba mengakomodasi semua," kata Luhut.

Lebih lanjut, Ia mengatakan, koordinasi juga sudah dilakukan dengan Menteri Kesehatan Letnan Jenderal TNI (Purn) dr. Terawan Agus Putranto dan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.

"Jadi kalau orang bilang ndak berkoordinasi ndak betul juga," ujar Luhut.

Di sisi lain, ia menyatakan data COVID-19 terkait kasus konfirmasi positif, meninggal, dan sembuh akan menentukan kebijakan Indonesia ke depan. Luhut pun mengaku memiliki pertanyaan tersendiri perihal perkembangan COVID-19.

"Karena juga buat saya tanda tanya sih, kenapa jumlah kita yang meninggal, maaf sekali lagi, itu angkanya ndak sampai 500. Padahal jumlah penduduk 270 juta. Infected (terinfeksi) 4000-an lebih. Katakan kali 10 itu 50 ribu," kata Luhut.

Ia lantas membandingkan dengan Amerika Serikat (AS).

"Amerika negara yang beda penduduk lebih besar dari kita, 60 jutaan, itu yang meninggal 22 ribu. Yang infected hampir 560.000. Okelah kita mungkin kurang testing kit, tapi saya bilang tadi sudah dikali anggap 50.000," ujar Luhut.

"Sekarang kita pengkajian banyak negara gak ngerti. Jadi untuk menyikapi ini, yang ingin saya jelaskan, itu juga harus hati-hati, cermat, tidak grusa grusu juga. Harus pas," lanjutnya.

Seperti dilaporkan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan, kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia sampai dengan Selasa (14/4/2020) pukul 16.00 WIB mencapai 4.839. Dari jumlah itu, sebanyak 426 sembuh dan 459 meninggal.

Sementara itu di AS, laman Worldometers pada hari ini melaporkan total kasus konfirmasi positif COVID-19 mencapai 613 ribu. Dari jumlah itu, 26 ribu meninggal, sedangkan yang sembuh 38 ribu orang.***

Editor : Muslikhin Effendy
Sumber : CNBCIndonesia.com
Kategori : Umum, Peristiwa, Pemerintahan
Loading...
Terpopuler 24 Jam Terakhir
Loading...